RSS

Mengenal Lebih Dalam

Peserta didik perempuan dengan usia 10 tahun yaitu kelas 5 SD, telah mencapai ranking 5 besar di kelasnya, suatu pencapaian yang tidak biasa ditengah lingkungan kumuh. Terlebih lagi sang adik untuk mengerjakan PR dari sekolah, ia kerjakan sendiri dengan semangat. Ia adalah anak terakhir dari dua bersaudara, kakaknya laki2 seusia anak SMA memiliki kebiasaan buruk yang membuat kedua orang tuanya khawatir akan masa depannya. Disitulah saya merasa iba, karena sang ibu hanya seorang buruh cuci dan momong anak orang lain sedangkan sang ayah sebagai penjaga toko dan pembersih di kota tua. Penghasilan mereka tidak seberapa untuk menghidupi anak-anaknya namun, selalu dicukup-cukupi. Sang ibu sangat memiliki antusiasme yang tinggi untuk belajar mengaji karena dari kecil beliau tidak bisa mengaji. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatnya untuk keluarga ini.

Lain halnya dengan yang satu ini, adik ini seorang anak laki2 kelas 5 SD yang aktif dan suka bermain terutama game mobile online sehingga ia bisa dikatakan jarang keluar rumah jika sudah bermain game tersebut. Kebiasaan anak laki2 seusia mereka rawan dengan kecanduan seperti ini. Sebaiknya para orang tua memperhatikan baik2 anaknya masing2. Sisi positifnya dari anak ini ia adalah termasuk anak yang rajin sholat bahkan sholat subuh dan mengaji di dua tempat mencerminkan akhlak yang patut dicontoh, serta bisa mengerjakan PR nya sendiri tanpa bantuan orang tua. Saat sharing itu, yang mewakilkan orang tuanya adalah neneknya. Ibunya tidak memiliki tubuh yang sempurna layaknya manusia pada umumnya namun, beliau tidak gentar untuk membantu suaminya mencari nafkah sebagai pedagang di salah satu SD di daerah Pademangan. Tak luput juga neneknya sesekali membantu perekonomian maupun pekerjaan rumah tangga dari sang anak. Masya Allah betapa harmonisnya keluarga ini, menerima dengan lapang dada akan kondisi yang sedang dihadapi.

Beralih ke adik laki2 yang lain, anak usia 12 tahun yang masih duduk di kelas 5 SD. Ia termasuk anak yang penurut, pendiam, dan anak yatim di daerah kampung muka. Dalam hal pelajaran ia kurang bisa di matematika dan sang ibu mengeluh tulisan sang anak kurang bagus. Dengan adanya kakak2 KOPAJA semoga dapat membantu adik2 yang seperti ini. Saya sangat tersentuh dengan sang ibu yang membanting tulang sebagai pemulung karena belum lama suaminya meninggal sehingga beliau harus mengantikan suaminya mencari nafkah untuk anak-anaknya. Penghasilan dari hasil mulung hanya Rp30.000/hari, namun dalam kondisi tersebut mereka hidup dengan cukup, disinilah tangan2 Allah bermain untuk hamba2Nya yang ikhlas. Mirisnya, saking pendiamnya, ia menjadi bahan isengan di kalangan teman2nya saat ia memakai barang2 baru, namun ia tetep tidak melawan. Betapa sabarnya anak ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Posting Komentar